Press "Enter" to skip to content

Menyembah-Nya Sekaligus mengingkari-Nya

Salam sejahtera bagi semesta.

Pada artikel kali ini akan dibahas mengenai makna atau hikmah yang dapat kami pahami dari tiga ayat kitab suci, dua ayat dari Al-qur’an dan satu ayat dari Alkitab atau Bible, dimana menurut yang kami pahami makna dari ketiga ayat ini saling beriringan.

Bahasan akan diawali dengan kajian dari sisi bahasa, untuk ayat Al-qur’an tentunya bahasan dari segi bahasa memakai kajian bahasa Arab Kitabi dengan ‘alatnya’ Nahwu, Sharaf, dan Balaghah. Untuk Alkitab atau Bible maka kajian dari segi bahasa tentunya memakai kajian bahasa yang biasa digunakan oleh para ahli Alkitab, yaitu antara bahasa Ibrani atau Hebrew, Yunani atau Greek, dan Aramaic atau Aram.

Setelah selesai bahasan dari segi bahasa, bahasan kami lanjutkan dari segi kajian hikmah. Selamat membaca.

Ayat pertama dan kedua

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Al-Baqarah : 11).

و إذا (Dan apabila) قيل (dikatakan) لهم (kepada mereka) لا تفسدوا (janganlah kalian berbuat kerusakan) في الأرض (di bumi) قالوا (mereka berkata) انما نحن (sesungguhnya kami) مصلحون (orang-orang yang melakukan perbaikan).

Pembahasan dari segi i’rab

الإعراب:

(الواو) عاطفة (إذا) ظرف لما يستقبل من الزمان يتضمن معنى الشرط مبني على السكون متعلق بالجواب قالوا. (قيل) فعل ماض مبني للمجهول (اللام) حرف جر و (الهاء) ضمير متصل في محل جر باللام متعلق ب (قيل) . (لا) ناهية جازمة (تفسدوا) فعل مضارع مجزوم وعلامة الجزم حذف النون و (الواو) فاعل (في الأرض) جار ومجرور متعلق ب (تفسدوا) . (قالوا) فعل ماض مبني على الضم و (الواو) فاعل.

Huruf و itu adalah huruf athaf, kata إذا itu adalah zharaf lamaa mustaqbal min az-zaman, yaitu kata yang arahnya menunjukan kepada masa yang akan datang, yang terkumpul pada kata ini makna syarath yang mabni atas tanda sukun yang berkaitan dengan al-jawab yang ada pada kata قالو. Kata قيل adalah fi’il madhi, yaitu kata kerja yang menunjukan telah dilakukan, yang mabni limajhul, huruf ل itu adalah huruf jar, huruf ه itu dhamir mutashil pada mahal jar dengan ل yang berkaitan dengan kata قيل. Huruf لا itu adalah nahiyah jazimah تفسدوا itu fi’il mudhari’ yang di jazmkan dan ciri jazmnya adalah dengan menghilangkan huruf ن. Huruf و itu fa’il, في الأرض itu adalah jar dan majrur yang berkaitan dengan تفسدوا. Kata قالوا itu fi’il madhi yang mabni atas dhamah, dan huruf و adalah fa’il.

(إنما) كافة ومكفوفة لا عمل لها (نحن) ضمير منفصل في محل رفع مبتدأ (مصلحون) خبر مرفوع وعلامة رفعه الواو والنون عوض عن التنوين في الاسم المفرد.

Kata إنما adalah kaffah dan makfufah laa ‘amala laha. Kata نحن adalah dhamir munfashil dalam mahal rafa’ mubtada’, kata مصلحون itu adalah khabar yang dirafa’kan dan ciri rafa’nya adalah و dan ن yang menjadi iwadh daripada tanwin dalam isim mufrad.

Pembahasan dari segi ilmu sharaf

الصرف:

(إذا) ظرف للزمن المستقبل فيه معنى الشرط، وقد يخلو من الشرط: والليل إذا يغشى. وقد يأتي للمفاجاة: خرجت فإذا رجل بالباب.

Kata إذا adalah zharaf li zamanil mustaqbal fihi ma’na asy-syarthi

(تفسدوا) فيه حذف للهمزة تخفيفا كما جرى في (يؤمنون، ويقيمون) .

Kata تفسدوا pada kata ini ada huruf أ yang dihilangkan untuk meringankan bacaan atau fihi hazfu lil hamzah tahfifan seperti yang terjadi pada kata يؤمنون dan kata يقيمون.

(قيل) ، فيه إعلال بالقلب، أصله قول بضم أوله وكسر ثانيه، ولكن الواو- وهو حرف علة- لا يستطيع حمل الحركة فوجب تسكينه ونقلت حركته إلى القاف فأصبح قول بكسر فسكون، ثم قلبت الواو ياء لسكونها وانكسار ما قبلها فأصبح الفعل قيل.

Kata قيل, kata ini adalah i’lal bil qalbi, yang pada asalnya adalah قول dengan mendhamahkan huruf awalnya dan mengkashrahkan huruf keduanya, yang kalau dibaca pada asalnya jadi quwil, akan tetapi و – yang dia adalah huruf ilat – tidak mampu untuk membawa harakah maka (menurut kaidah tata bahasa) wajib disukunkan dan dipindahkan harakahnya kepada huruf ق, maka jadilah قول dengan tanda kasrah menjadi pengganti dari tanda sukun, kemudian diganti huruf و oleh huruf ي karena kesukunannya, dan dikashrahkan huruf sebelumnya, maka jadilah fi’il قيل.

(الأرض) ، اسم جامد والهمزة فيه أصلية، وزنه فعل بفتح فسكون.

Kata الأرض itu isim jamid dan huruf أ pada asalnya, dan wazannya adalah فعل dengan tanda fathah sebagai ganti dari tanda sukun.

(مصلحون) ، جمع مصلح اسم فاعل من أصلح، وفيه إذا حذف للهمزة تخفيفا كما حذفت من مضارعه لأنه على وزنه بإبدال حرف المضارعة ميما مضمومة وكسر ما قبل آخره، وأصله مؤصلحون.

Kata مصلحون adalah jama’ dari kata مصلح dan isim fa’il dari kata أصلح, dan padanya ada huruf أ yang dihilangkan untuk tahfifan seperti dihilangkannya من mudhara’ah, karena dia berada pada wazan menggantikan huruf mudhara’ah م yang didhamahkan dan dikasrahkan huruf sebelum akhirannya, kata ini pada asalnya adalah berbentuk مؤصلحون.

أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari”. (QS. Al-Baqarah : 12)

Kata ألا yang berarti ‘ingatlah’, إنهم هم yang berarti ‘sesungguhnya merekalah’, المفسدونberarti ‘yang berbuat kerusakan’, ولكن (akan tetapi) لا يشعرون (mereka tidak menyadari)

Pembahasan dari segi i’rab

:الإعرب

(ألا) حرف تنبيه (إن) حرف مشبه بالفعل للتوكيد و (الهاء) ضمير في محل نصب اسم إن و (الميم) حرف لجمع الذكور (هم) ضمير منفصل في محل رفع مبتدأ (المفسدون) خبر المبتدأ مرفوع وعلامة الرفع الواو (الواو) عاطفة أو حالية (لكن) حرف استدراك (لا) نافية (يشعرون) مضارع مرفوع وعلامة الرفع ثبوت النون (الواو) ضمير متصل فاعل.

Kata الا itu huruf tanbih, kata إن itu huruf musyabahah bil fi’li yang berposisi untuk menguatkan makna atau menguatkan arah makna dari sebuah kata/kalimat, huruf ه itu dhamir pada tempat nashab ism inna dan الميم itu huruf untuk menunjukkan kejamakkan (menunjukkan jumlah yang banyak) bagi kelompok laki-laki, هم itu dhamir munfashil pada tempat rafa’ mubtada’, المفسدون itu adalah khabar mubtada’ yang rafa, ciri rafanya adalah huruf و, huruf و itu adalah huruf athaf atau sebagai hal, kata لكن itu sebagai huruf istidrak, huruf لا itu sebagai nafiyah, kata يشعرون itu fi’il mudhari yang di rafakan, ciri rafanya adalah dengan adanya huruf ن.

جملة: إنهم هم المفسدون لا محل لها استئنافية.

وجملة: «هم المفسدون» في محل رفع خبر إن.

وجملة: «لا يشعرون» لا محل لها معطوفة على الاستئنافية أو في محل نصب حال من الضمير المستكن في اسم الفاعل (المفسدون)

Kelompok kata انهم هم المفسدون bukan mahal yang padanya isti’naafiyah. Kelompok kata هم المفسدون berada pada mahal rafa’ khabar dari huruf إن. Kelompok kata لا يشعرون bukan mahal yang padanya ma’tufah atas isti’nafiyah atau kelompok kata ini berada pada mahal nashab haal daripada dhamir yang menetap dalam ismul fa’il المفسدون.

Pembahasan dari segi ilmu sharaf

:الصرف

(المفسدون) ، جمع المفسد وهو اسم فاعل من أفسد، وفيه حذف للهمزة تخفيفا كما حذفت من مضارعه لأنه على وزنه بإبدال حرف المضارعة ميما مضمومة وكسر ما قبل آخره، وأصله المؤفسدون.

Kata المفسدين, itu jamak dari kata المفسد, dan dia adalah isim fa’il daripada kata أفسد, dan pada kata ini ada penghilangan huruf أ (hamzah) untuk peringanan bacaan seperti telah dihilangkannya من مضارعة karena dia berada pada wazannya dengan menggantikan huruf mudhara’ah م yang didhamahkan dan dikashrahkan apa yang ada pada akhirannya, dan bentuk asal dari kata ini adalah الؤمفسدون.

Ayat ketiga

Matius 15:9

Μάτην δὲ σέβονταί με, διδάσκοντες διδασκαλίας, ἐντάλματα ἀνθρώπων.

(ITB) Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”

(ILT) dan mereka menyembahku dengan sia-sia, dengan mengajarkan ajaran perintah-perintah manusia.

(KJV) But in vain they do worship me, teaching for doctrines the commandments of men.

Pembahasan dari segi bahasa

Pembahasan ayat ini dari segi bahasa terbagi kepada dua kalimat, yaitu:

Kalimat pertama

Μάτην δὲ σέβονταί με

(ITB) “Percuma mereka beribadah kepada-Ku”,

(ILT) “dan mereka menyembahku dengan sia-sia”,

(KJV) “But in vain they do worship me”

Μάτην

Kata μάτην maten (ma’-teen), dalam ayat diartikan dengan arti ‘percuma’ menurut ITB, ‘sia-sia’ menurut ILT dan menurut KJV memiliki beberapa arti antara lain: folly. (adverbially) to no purpose, futilely. [accusative case of a derivative of the base of (through the idea of tentative manipulation, i.e. unsuccessful search, or else of punishment)], KJV: in vain.

δὲ

Kata δέ de (d̮e’) menjadi kata awalan bagi sebuah kalimat, kalau dalam kebiasaan ayat Al-qur’an seperti ayat-ayat Al-qur’an yang dimulai dengan huruf wau, yang dalam tata bahasa Arab berfungsi sebagai wau awalan kata, yang menurut KJV memiliki beberapa arti, antara lain:

  1. (additionally) and.
  2. (of contrast) but.
  3. (of distinction) now.
  4. (of continuation) then.
  5. (of result) so.
  6. (occasionally, of continuation) (often unexpressed in English “and,” being unnecessary and obtrusive in proper English communication).
  7. (rarely) or used variously in a few other contexts. {often unexpressed in English} [a primary particle (adversative or continuative)], KJV: also, and, but, moreover, now.

Arti dari kata ini tergantung kepada kelompok kalimatnya, kemana dan diarahkan untuk apa kelompok kalimatnya, maka maknanya disesuaikan dengan pemahaman kelompok kalimat terebut.

σέβονταί

Kata σέβομαι sebomai (se’-ɓo-mai) dalam ayat diterjemahkan dengan arti ‘beribadah’, baik menurut ITB maupun ILT, sedangkan menurut KJV memiliki beberapa arti, antara lain:

  1. to reverence.
  2. (antonym) to irreverence. [middle voice of an apparently primary verb],

KJV: devout, religious, worship

Kata μέ me (me’) menurut KJV: I, me, my

Kalimat kedua

διδάσκοντες διδασκαλίας, ἐντάλματα ἀνθρώπων.

ITB : “dengan mengajarkan ajaran perintah-perintah manusia”.

ILT : “sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia”.

KJV:” teaching for doctrines the commandments of men”.

Kata διδάσκω didasko (d̮iy-d̮a’-skō), dalam ITB diartikan ‘sedang mengajarkan’, dalam ILT diartikan ‘yang diajarkan’, dalam KJV diartikan ‘to teach {in the same broad application as dao “to learn”}, [a prolonged, causative form of a primary verb dao “to learn”] KJV: teach.

Kata διδασκαλία didaskalia (diy-d̮a-ska-liy’-a). Dalam ITB dan ILT diartikan ‘ajaran’, sedangkan menurut KJV adalah instruction (the function or the information). KJV: doctrine, learning, teaching.

Kata ἔνταλμα entalma (en’-tal-ma). Dalam ITB dan ILT diartikan ‘perintah atau perintah-perintah’, sedangkan menurut KJV adalah an injunction, i.e. religious precept, KJV: commandment.

Kata ἄνθρωπος anthropos (an’-thrō-pos), dalam ITB dan ILT diartikan ‘manusia’ dan menurut KJV adalah (literally) man [from and ops “the countenance”] . KJV: certain, man .

Pembahasan dari segi makna atau hikmah dari ketiga ayat di atas

Pada dasarnya semua manusia itu ingin berbuat baik, ingin menjadi orang yang baik, ingin menjadi lebih baik dan ingin terus berada dalam kebaikan. Memang secara sekilas menjadi orang baik itu mudah, akan tetapi pada kenyataannya tidak semudah itu. Manusia beragama atau meyakini suatu ajaran atau keyakinan adalah untuk menemukan jalan agar keinginan berbuat baik mereka diarahkan oleh ajaran agama atau keyakinan yang mereka yakini itu menuju kebaikan yang benar-benar baik dan kebaikan yang benar-benar benar.

Manusia beragama atau yang meyakini sebuah keyakinan sangat ingin sekali dan selalu berniat bahwa perbuatan mereka itu adalah semata-mata karena Tuhan dan demi Tuhan, sebagai persembahan kepada Tuhan, sebagai wujud ibadah kepada Tuhan, sebagai ejawantah dari sebenar-bemarnya pengabdian terhadap Tuhan, sebagai pengorbanan kepada Tuhan, dan lain-lain.

Pada ayat pertama dan kedua digambarkan bahwa ada kelompok manusia yang mereka sangat yakin bahwa mereka sedang melakukan kebaikan, akan tetapi secara tidak sadar mereka sebenarnya sedang berbuat kerusakan.

Pada zaman ini ketika banyak pertentangan yang pertentangan itu mengarahkan manusia untuk saling membenci, mencela, menghina dan lain-lain, kemudian condong kepada mengarahkan manusia untuk saling membunuh dan memerangi.

Dalam ajaran tiap agama dan keyakinan banyak sekali ada perbedaan dalam menafsirkan ayat-ayat yang ada dalam kitab suci, sehingga berakibat melahirkan banyak sekte, madzhab, manhaj, dan lain-lain. Masing-masing penganut sekte, madzhab, manhaj, dan kawan-kawan tentunya meyakini bahwa tafsiran kelompok merekalah yang baik dan benar, itu tidak menjadi masalah karena manusia tidak mungkin meyakini sesuatu yang mereka anggap salah, akan tetapi menjadi masalah sangat besar ketika ada kelompok manusia yang memaksakan pemahaman atau tafsiran kebenaran versi kelompok mereka kepada kelompok manusia lain, sehingga akibat dari pemaksaan ini tentunya adalah terjadinya bentrokan, yang jika terjadi pada taraf debat dan diskusi tidaklah apa-apa, dan kadang baik untuk saling memahami dan memaklumi, akan tetapi sangat berbahaya jika pemaksaan ini sudah pada level mengkafirkan kelompok lain yang berbeda pemahaman, berbeda pentafsiran dengan kelompoknya. Sehingga akibat dari pengkafiran ini ada kelompok yang tidak segan memenggal para pria dari kelompok lain, menjadikan budak wanita dari kelompok lain, dan kemudian merampas harta kekayaannya, yang mereka yakini sebagai ghanimah.

Pada saat mereka melakukan pemenggalan, perbudakan dan penjarahan, kelompok ini sangat meyakini bahwa mereka sedang melakukan kebaikan, kebenaran dan perjuangan demi dan atas nama Tuhan. Ketika ada yang mengingatkan bahwa apa yang sedang mereka perbuat itu adalah tidak tepat dan mengakibatkan kerusakan, mereka menyangkal, dan mereka meyakinkan kepada yang mengingatkan itu bahwa mereka sedang melakukan perbaikan, mereka tidak merasa dan tidak sadar bahwa sebenarnya mereka itu sedang berbuat kerusakan.

Mengiringi pemaknaan ayat pertama dan kedua dalam artikel ini, ayat ketiga menjelaskan bahwa ada kelompok manusia yang menyangka sedang melaksanakan perintah Tuhan atau dalam rangka mengejawantahkan penyembahan terhadap Tuhan, padahal sebenarnya apa yang mereka perbuat itu sia-sia, karena apa yang sedang mereka ajarkan, doktrinkan kemudian laksanakan itu adalah sebenarnya bukan ajaran Tuhan akan tetapi itu adalah ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin dari manusia itu sendiri.

Pada kalangan para pemuka agamanya, jenis seperti yang digambarkan ayat-ayat di atas terbagi kepada dua kelompok, yaitu:

  1. Kelompok pertama, mereka menyangka apa yang sedang mereka ajarkan dan atau doktrinkan kepada umatnya atau jama’ahnya itu adalah ajaran Tuhan, perintah Tuhan, padahal secara tidak sadar dan tidak dia rasa bahwa sebenarnya dia sedang mengajarkan ajaran-ajaran dan doktrin-doktrin manusia bukan ajaran Tuhan. Mereka adalah manusia baik yang bersemangat dalam kebaikan, akan tetapi masih kurang banyak baca, kurang konfirmasi, atau terlalu fanatik madzhab dan manhaj. Jenis ini bisa berubah menjadi lebih baik dan lebih toleran juga baik maklumnya dengan lebih banyak baca dan banyak konfirmasi dari banyak sumber berbagai madzhab-madzhab dan manhaj-manhaj bahkan sumber dari berbagai agama.
  2. Kelompok kedua, mereka menyadari secara penuh bahwa mereka sedang mengajarkan atau mendoktrinkan ajaran-ajaran manusia kepada umat atau jama’ahnya, mereka tahu sedang tidak mengajarkan ajaran Tuhan, akan tetapi mereka bersembunyi dibalik ayat-ayat suci, mereka menutupi kepentingan pribadi atau kelompok mereka dengan ayat-ayat suci, mereka sedang membodohi jama’ah dan umatnya, mereka tampak sangat shaleh dari luar, mereka adalah manusia jahat yang bertopeng agama. Sebagian dari mereka memang memiliki kemapanan dalam keilmuan agama, memang memiliki gelar akademis yang tinggi, akan tetapi kemapanan ilmu dan gelarnya digunakan untuk memenuhi syahwat pribadi atau kelompoknya. Jenis ini sangat berbahaya karena siapapun yang menentang mereka, maka bisa dicap sebagai penista agama, bisa dianggap munafik, bisa dituduh kafir, bahkan bisa dihalalkan darah dan hartanya, karena mereka tampak sangat shaleh dalam tampilan dan sangat fasih dalam pembicaraan. Cara mengatasi kelompok ini, bagi yang mampu dan memiliki argumen yang mapan maka lawanlah argumentasi mereka, bagi yang tidak mempunyai kemampuan berargumentasi, maka jauhilah mereka atau laporkan kepada pihak yang berwenang atau pihak yang memiliki kemampuan, agar pihak yang berwenang dan memiliki kemampuan segera mengatasinya atau meredamnya.

Pada kalangan umatnya, juga terbagi kepada dua kelompok, yaitu:

  1. Kelompok pertama, dalam keadaan tidak merasa dan tidak tahu juga tidak sadar mereka yakin sedang menerima, mendengarkan, membaca, menonton dan mendownload ajaran dan doktrin Tuhan, mereka begini karena sangat bersemangat dalam belajar akan tetapi semangat mereka tidak di iringi dengan kewaspadaan, mereka menyangka bahwa bahwa agama atau keyakinan yang mereka yakini itu hanya mempunyai satu tafsiran saja, satu pemahaman saja, mereka tidak mengerti atau kurang mendalami apa itu madzhab, apa itu manhaj, mereka juga tidak tahu bahwa mereka sedang dibodohi, sedang diarahkan untuk memenuhi syahwat sang penjahat yang bertopeng agama, pada akhirnya secara tidak sadar lambat laut mereka menjadi para boneka dari sang zhalim yang berbaju keshalehan. Mereka adalah orang-orang baik yang bersemangat belajar agama tapi tanpa kewaspadaan. Jenis ini bisa dikurangi atau dicegah keberadaannya atau disembuhkan dengan cara menanamkan rasa selalu waspada dan jangan belajar hanya dari satu sumber saja, jangan belajar hanya satu pemahaman saja, jangan belajar hanya satu tafsiran saja, jangan belajar hanya dari satu kelompok, madzhab dan manhaj saja, atau bahkan jangan hanya belajar dari satu agama saja, semangatlah dalam belajar tapi tetaplah waspada.
  2. Kelompok kedua, mereka sadar penuh bahwa mereka itu tidak sedang menerima, mendengarkan, membaca, menonton dan mendownload ajaran dan doktrin Tuhan, akan tetapi sedang menerima, mendengarkan, membaca, menonton dan mendownload ajaran dan doktrin dari kelompoknya saja, mereka begini karena mereka merasa bahwa ajaran dan doktrin yang sedang mereka laksanakan itu sesuai juga dengan syahwat mereka, mereka pada dasarnya bukan boneka seperti kelompok umat pertama, akan tetapi mereka adalah penjahat juga, tapi karena kurangnya kuasa dan keahlian dalam menipu maka mereka memutuskan untuk menjadi pengikut dari penjahat yang memiliki kuasa dan keahlian menipu yang lebih mapan dari mereka. Jenis ini juga berbahaya, karena biasanya dari jenis inilah para algojo pemenggal dan penjarah berasal, dari jenis inilah berasal kelompok-kelompok pemakan hati manusia, dari jenis inilah berasal manusia-manusia yang secara terang-terangan berani berbuat kasar dan brutal dalam melaksanakan tafsiran kelompoknya. Karena kelompok dari jenis ini cenderung bertindak kasar dan brutal, cara mengatasinya adalah laporkan kepada pihak yang berwenang atau pihak yang memiliki kemampuan, agar pihak yang yang berwenang dan memiliki kemampuan segera mengatasinya atau meredamnya.

Kesimpulan

Memang kebenaran itu ada, akan tetapi itu dulu ketika para manusia suci masih ada ditengah-tengah manusia biasa, yang jika ada salah tafsir maka bisa langsung ditanyakan dan dikoreksi oleh sang manusia suci. Untuk masa kini ketika para manusia suci penerima wahyu Tuhan sudah tidak berada ditengah-tengah kita maka kebenaran itu menjadi relatif, karena kebenaran menurut suatu kelompok belum tentu kebenaran bagi kelompok yang lain. Perbedaan penafsiran dalam memahami kitab suci tidak akan bisa dihilangkan atau dikurangi, bahkan mungkin akan makin bertambah, untuk menyikapi ini kita sebagai manusia yang tentunya tidak ingin menjadikan peperangan menjadi satu-satunya jalan keluar, dan juga pasti tidak ingin kerusakan terjadi di bumi ini, pada tiap hal mulailah untuk membiasakan diri bertanya pada ahlinya dan berdiskusi dengan ahlinya, yang jika salah atau kurang tepat menurut kaidah-kaidah ilmu yang sedang dipelajari, maka akan diluruskan.

Bertanyalah tentang Al-qur’an kepada ahlinya, jika ingin tahu tafsir Al-qur’an dari segi ilmu nahwu maka bertanyalah pada ahli ilmu nahwu, jika ingin tahu tafsir Al-qur’an dari sisi sejarah maka bertanyalah kepada ahli sejarah, jika ingin tahu pemahaman ahlu sunnah tanyalah ahli dari ahlu sunnah, jika ingin tahu tengang syi’ah maka tanyalah ahli dari syi’ah, jika ingin tahu tentang kristen, budha, hindu, konghucu, dan lain-lain maka tanyalah kepada ahlinya dari pihak-pihak tersebut, jangan bertanya sesuatu kepada yang bukan ahlinya, karena hasilnya akan jauh dari tepat menurut kaidah-kaidah keilmuan.

Pengetahuan atau ilmu itu merdeka dan aset berharga bagi manusia dan kemanusiaan, kepentingan pribadi atau kelompok memang pasti ada dan tidak akan bisa hilang, akan tetapi jika diiringi dengan menghargai dan memaklumi kepentingan pribadi dan kelompok orang lain sebagaimana kepentingan dirinya dan kelompoknya ingin dihargai dan dimaklumi, maka petikaian yang mengakibatkan perpecahan hingga peperangan itu tidaklah perlu ada.

Jika sama-sama punya tujuan baik kenapa tidak bersama-sama mewujudkan tujuan baik tersebut. Dan jika sama-sama tidak menyukai kerusakan maka mari bersama-sama mencegah kerusakan itu terjadi.

Sekian dahulu pembahasan untuk kali ini, pembahasan kami ini tidaklah cukup untuk menuturkan semua kandungan makna dan hikmah yang terkandung dalam ketiga ayat-ayat di atas, akan tetapi dengan segala kekurangan yang ada semoga artikel ini bermanfaat bagi kami sebagai penulis dan bagi pembaca sekalian, jika ada yang ingin lebih mendalami lagi dalam menyelami makna ketiga ayat di atas maka bertanyalah kepada ahlinya dan berdiskusilah dengan ahlinya.

Semoga kita semua selalu berada dalam kesadaran dan kewaspadaan.

Salam Damai

Sumber:

  1. Al-qur’an Al-karim
  2. Alkitab Deuterokanonika, Lembaga Alkitab Indonesia, Penerbit : Percetakan LAI, edisi LB thn. 2014.
  3. Kitab Suci, Indonesian Literal Translation, Penerbit : Yayasan Lentera Bangsa, thn. 2008.
  4. Al-jadwal Fi I’rabi Al-qur’an Al-karim, karya Mahmud bin ‘Abdurrahim Shafi, Juz 1, hlm. 51-53, penerbit: Dar Ar-rasyid-Damsyik dan Mu’asasah Lil Iman-Beirut, cetakan ke-4, thn. 1418 H.
  5. The 1598 version of Beza’s Greek New Testamen, Theodore Beza ( june/24/1519-october /13/ 1605).
  6. King James Version of 1611/1769.
  7. Mickelson’s Enhanced Strong’s Dictionaries of the Greek and Hebrew Testaments (MESD), English Dictionaries of the Textus Receptus, the 1550 Stephanus and 1525 Ben Chayyim (Second Edition – 125th Anniversary Edition), Authors: Mickelson, Jonathan K, Year: 2008, 2010, 2015, Publisher: LivingSon Press, ISBN: (MESD): 978-1-60922-009-9.
  8. King James Version (1769) with Strongs Numbers and Morphology (KJV)
  9. Photo under license of Pixabay.com
0.00 avg. rating (0% score) - 0 votes
error: Content is protected !!
%d bloggers like this: